Sabtu, 16 September 2017

Dateng Meet-Up Travel Blogger

Hari ini gw dateng ke acara Meet-UP Uchita Pohan  dan Febrian di kafe Kroma, Panglima Polim, Jakarta Selatan. Sebenernya gw belum lama kepoin web Febrian buat pencerah travelling gw. Cerita-cerita yang kak Feb ceritain bikin gw ngiler buat ikutan ngelakuin hal yang sama juga. Kalo kak Uchiet gw baru tau dari tag di instagram kak Feb. Ternyata kehidupan pekerja lepas (freelance) lebih memberikan banyak tantangan. Banyak cerita unik yang dishare oleh kak Uchiet dan kak Feb.

Di dalam kafe Kroma
Sudah ditata meja dan kursi untuk Meet-UP


Ini merupakan acara meet-up keempat kata kak Uchiet di pembuka acara. Namun, ini pertama kali gw hadir dalam meet-up khusus traveller enthusiast. Acara dibuka oleh lantunan melodi biola dari Nia Aladin. Kemudian diikuti oleh pengenalan kamera Lumix dan akhirnya dilanjutkan dengan sharing cerita jalan-jalan kak Feb.

Atraksi Biola oleh Nia Aladin


Banyak hal baru yang menjadi pelajaran buat gw. Karena gw udah "waw" sama kak Feb jadilah sisi cerita kak Feb yang lebih banyak gw dengerin. Menurut Kak Feb, travelling itu merupakan proses pendewasaan diri. Bertemu dengan hal-hal baru yang tidak pernah dibayangkan sebelumnya menempatkan kita dalam posisi harus beradaptasi. Apalagi mempelajari budaya kehidupan Indonesia, dari ujung sampai ujung Indonesia beragam sekali gaya hidupnya. Dari keberagaman itulah kita diajak untuk mengetahui caranya untuk menikmati hidup. "The more you travel, the more you know yourself better" gitu kata Kak Feb.

Kak Febrian menyapa semua pendatang meet-up bersama Kak Uchiet

Bagi Kak Uchiet, travelling itu layaknya membuka mata selebar jendela. Berbagai hal yang dilihat mata akan menjadi tolak ukur seberapa besar luas penglihatan dari jendela tersebut. Jika kita rajin mempelajari hal baru tentunya jendela kita akan semakin terbuka lebar. Tentu saja jika kita tidak rajin-rajin untuk mencari tau tentang hal baru, maka lebar jendela kita akan tetap pada posisi yang sama tanpa menunjukan adanya proses melebar.

Dengan menjalani travelling, berbagai pelajaran hidup menjadi hal berharga bagi Kak Feb. Ia pernah menjalani trip bersama salah satu LSM di Indonesia ke daerah Lembata, Nusa Tenggara Timur. Di sana ia tinggal bersama seorang janda yang memiliki dua orang anak dan satu keponakan. Segalanya terasa susah hidup di sebuah desa yang belum memiliki akses listrik dan air bersih. Untuk mendapatkan air bersih, penduduk di sana harus berjalan hingga satu jam lamanya. Sekembalinya Kak Feb ke Jakarta, ia mengakui bahwa fakta kehidupan keras yang ia lihat di Lembata membuat ia mengurungkan niat untuk berbelanja mengingat kesulitan yang ia rasakan belum sebanding apa yang dirasakan oleh ibu janda yang ia tumpangin rumahnya dan penduduk Lembata sekitarnya. Jangankan memikirkan mendapat sinyal atau tidak, mau minum saja susah!

Sharing mengenai travelling oleh Kak Uchiet dan Kak Febrian

Ternyata... Kak Feb dulunya wedding singer. Setelah menjalani profesi menyanyi-nya, Kak Feb merasa lebih ingin jalan-jalan tapi menghasilkan. Tentu, penghasilan dari menyanyi disisihkan sebagian untuk jalan-jalan. Wonderful banget ga sih kalo dari jalan-jalan aja dapet duit? Tapi mungkin engga sih? Begitu juga yang dipikirin Kak Feb awalnya. Ada petuah  yang selalu diingat Kak Feb"Tidak ada yang "gak mungkin" tapi "mau engga" yang menjadi penting" . Dari situlah kak Feb mencoba untuk mengontak berbagai teman di daerah yang berbeda untuk menumpangi rumah mereka dan pergi ke destinasi wisata di dekatnya. Menulis cerita untuk blog menjadi hambatan kedua karena Kak Feb tidak pernah memiliki minat yang tinggi untuk membaca maupun menulis. Namun tak menyurutkan niatnya untuk berbagi kisah setelah travelling ke destinasi-destinasi yang menarik dan membagikannya lewat blog.

Pencerah pertama setelah berbagi cerita tentang destinasi yang dikunjunginya merupakan telepon dari teman kuliahnya yang sudah bekerja di Indonesia Kaya untuk menjadi host travelling. Merupakan hal yang menakjubkan bukan? Dari awalnya hanya keinginan Kak Feb untuk mendapatkan uang dari jalan-jalan hingga menjadi travel blogger yang pekerjaannya membuat semua orang ngiler untuk berlibur. Ia memberikan tips bahwa setiap destinasi memiliki momen tersendiri bagi travellernya yang menjadi daya tarik pembaca. Itulah yang menurutnya membuat pembaca blognya menjadi meminta cerita-cerita baru untuk dibaca. Tak hanya ditawari menjadi host, namun Kak Feb sempat dihubungi Kompas untuk mengutip artikelnya.

Menjelajahi berbagai macam daerah di Indonesia membuat beberapa daerah yang jarang terkespos menjadi penarik wisatawan. Kurangnya edukasi tentang pariwisata kepada masyarakat lokal membuat mereka mudah sekali meminta uang kepada pendatang, seperti penjaja cindera mata yang agak memaksa pendatang untuk membeli dagangannya. Lebih parah lagi bila yang melakukan hal tersebut masih anak-anak. Menurut pengalaman Kak Feb, memberikan uang untuk jajan kepada anak-anak (yang menjual cindera mata dengan nada agak memaksa) merupakan hal keliru karena pasti mereka akan terbiasa dengan hal seperti itu dan akan melakukan hal serupa pada pendatang berikutnya. Kemungkinan yang akan terjadi berikutnya adalah komentar buruk dari satu pendatang ke pendatang yang lainnya seingga calon pendatang pun mengurungkan niat untuk pergi ke daerah tersebut. Yang terjadi selanjutnya? Sudah pasti daerah tersebut berkurang peminatnya.

Tak hanya anak-anak yang menjadi agresif meminta uang, namun masyarakat pedalaman yang sudah terbiasa menerima pungutan liar dari turis menjadi kebiasaan. Seperti pengalaman kak Feb sewaktu ke Papua. Untuk berfoto dengan salah satu orang suku yang mengenakan kostum, ia pernah diminta uang sebesar satu juta. Hal yang fantastis bukan?

Solusi dari Kak Feb untuk para pendatang yang "dipalak" seperti itu adalah mengedukasi mereka dengan pelan-pelan. Salah satu cara Kak Feb untuk meminimalisir kejadian tersebut adalah dengan tidak memberikan uang langsung kepada anak-anak yang berjualan di area destinasi wisata. Jika ingin memberikan uang kepada anak itu, harus melalui orang tuanya. Hal selain uang yang dapat menjadi solusi adalah permainan. Kak Feb pernah memberikan games pada anak-anak yang berada di destinasi wisata dengan hadiah berupa permen. Menurut Kak Feb dengan adanya permainan, anak-anak akan berusaha agar mendapatkan sesuatu, tidak hanya meminta saja.

Dalam kesempatan meet-up ini pula gw meminta saran untuk memilih opentrip yang meyakinkan. Hal ini dilatar-belakangi oleh salah satu pengalaman kurang berkesan gw ketika ikut opentrip sebelumnya. Opentrip sangat disarankan oleh Kak Uchiet jika ingin mengesksplor Indonesia yang susah dijangkau dan sangat baik untuk meningkatkan kemampuan travelling. Dalam hal memilih opentrip, sangat diharuskan untuk rajin-rajin membaca review dari orang yang pernah mengikuti opentrip tersebut. Kak Feb pun menambahkan, bila opentrip tersebut menarik influencers untuk mengikuti opentrip tersebut, sudah pasti itu meyakinkan untuk diikuti. Dengan adanya influecers yang merekomendasi suatu opentrip sudah pasti opentrip tersebut dibuat senyaman mungkin untuk kemudian direkomendasikan.

Tentunya.. Foto bersama!
Pas banget si Kak Febrian lagi terima telpon☺

Itulah pengalaman gw mengikuti meet-up yang khusus membicarakan travelling. Gw beruntung banget bisa kenal blogger-blogger dari acara-acara kecil namun intim seperti ini. Semoga gw bisa menulis tentang acara lainnya yang memberika pelajaran positif lagi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Pertama Kali Banget ke Kuala Lumpur (Part 1)

Gw ke Kuala Lumpur kali ini 60% budget sendiri. Nyari tiket untungnya udah dari lama jadi CGK-KUL pp cuma 625 ribu sajah. Sempet terpikirk...