Selasa, 18 April 2017

Cinta Nenek di Pantai Karang Nini dan Menyusuri Keindahan Cagar Alam Pangandaran

Setelah berhasil check-in ke hotel (gw lupa nama hotel tersebut, namun yang pasti hotel tersebut terdapat dalam list hotel Traveloka), gw mandi serta leyeh-leyeh di kamar. Lumayan... Ada AC beneran. Jadilah gw sekalian tidur deh! Kan pegel tuh abis naik bus Jakarta-Pangandaran. Pasang alarm sehingga bisa bangun jam 10-an, karena sudah janjian dengan Kang Dede untuk mulai jalan-jalan di daerah Pangandaran.

Kenapa gw nunggu Kang Dede banget? Karena transportasi yang memadai dan aman daerah sana adalah ojeg. Selain itu ada sepeda yang bisa disewa. Kendaraan lain yang gw lihat selain itu merupakan kendaraan pribadi atau dari rombongan tur yang umumnya bus rombongan. Jadilah setelah sudah puas merebahkan diri dalam kamar, saya bersiap-siap untuk berpetualang di Pangandaran.

Inti dari perjalanan gw sewaktu ke Pangandaran adalah menikmati pantai sepi yang masih alami. Gw lupa urutan pantai apa saja yang gw datengin, tapi garis besarnya gw tau namanya. Pantai yang gw datengin antara lain: Pantai Karang Nini, Pantai Karapyak, Pantai Timur Pangandaran, dan Pantai Barat Pangandaran. Jalan yang berkelok-kelok dan geradakan ini gw telusurin bersama Kang Dede dengan motornya. Karena pantai ini masih di pelosok, terkadang malah melewati perkampungan warga atau hutan. Kadang sampe gw mikir, "Ini gw dikerjain gak ya?" Ternyata engga! Semua pantai yang gw datengin itu indahnya booooo, warbyasah! Masih biru-biru air lautnya, pasir masih putih, pohon kelapa masih banyak, dan satu hal yang paling gw suka, sampah masih minim banget (karena perbandingan gw adalah pantai di Anc*l yang kotornya bikin ogah lama-lama)

Untuk yang Pantai Karang Nini, gw diceritain kisah yang melatarbelakangi bentuk karang yang mirip panggung Pride Lands di The Lion King. Jadi kisah-kisah yang diceritakan di situs yang gw riset sebelumnya benar bahwa Pantai Karang Nini itu merupakan saksi bisu kisah romantis tragis antara seorang pria dan wanita zaman dulu. "Nini" yang dimaksud di sini merupakan seorang wanita yang merindukan kepulangan suaminya dari melaut. Namun, karena sesuatu hal suaminya meninggal saat melaut sehingga penantian wanita tersebut tak kunjung kelar. Saking udah capek menunggu, si wanita ini berdoa pada Sang Pencipta "Ya Allah, tolong tunjukan di mana dan bagaimana keadaan suamiku. Bila ia masih hidup, tuntunlah ia jalan pulang. Bila ia sudah mati, tolong tunjukkan pada hamba hayat suami hamba. Jika Engkau memulangkan suami hamba tak bernyawa, ambil juga nyawa hamba, sehingga hamba dapat bersama suami hamba" (gak gitu inget sih gw, cuma intinya gitu). Jadilah itu karang yang menjulang tinggi merupakan bentuk terkabulnya doa "Nini" untuk kembali bersama suaminya yang dikembalikan tak bernyawa di hadapannya. Hamparan batu landai di depan "Nini" itulah yang dipercaya sebagai suami yang meninggal saat melaut tersebut.

Hal itu yang dibenarkan pula oleh Kang Dede. Mengapa ia yakin? Karena menurut informasi yang beliau berikan, dulunya beliau nelayan yang ikut menyelam untuk menangkap ikan. Berhubung alat menyelam kurang memadai, terjadi kerusakan pada organ pendengarannya secara permanen. Sejak saat itulah Kang Dede "naik ke darat" untuk mencari nafkah dari ojeg. Selain ojeg, ternyata beliau memang sering mengantar tamu keliling Pangandaran! Mungkin karena di daerah sana semuanya saling kenal, setiap kali berhenti di pantai atau warung, beberapa orang menyapa Kang Dede. Sapaan itu pun dibalas kembali oleh Kang Dede.

Karena waktu gw cuma 3 hari 2 malam untuk solo travelling dan gw ogah terburu-buru, pilihan jalan-jalan terakhir adalah situs Cagar Alam Pangandaran. Seperti layaknya tur, si Kang Dede ikut jalan-jalan ke dalam taman sambil menerangkan informasi singkat dari setiap spot bersejarah di taman itu. Banyak gua-gua yang keluar dari jalur path yang disediakan, sehingga kata beliau kalo gak sama orang lokal gak bakal nemu. Walaupun ia berbadan chubby juga, ia mau loh naik-turun tangga nemenin gw! Hahaha... Kasian sih dia keringetan ngucur parah! Gw sama beliau pun menyusuri sungai kering dan menuju spot yang pas untuk melihat kapan asing yang di-bom oleh Menteri Kelautan Indonesia. Ya, bangkai kapal tepatnya! Bangkai kapal yang sempat menarik perhatian dunia sehingga memberikan sedikit efek jera dalam kasus mencuri ikan di perairan Indonesia. Spot itu juga mesti naek tangga, belok kanan-kiri, nanjak lagi. Asumsi gw sih kalo rombongan, gak mungkin sampe spot sini, pasti desek-desekan! Saya menemukan satu hal lagi pada spot itu, bungkus rokok! Ya siapa lagi kalo bukan orang Indonesia yang doyan nyampah... Hahaha

Begitu turun dari spot "melihat bangkai kapal", gw kasian sama si Kang Dede dan akhirnya kami berbagi minum. Nah! Gw kira kan dah kelar tuh, ternyata engga sob! Masih diajak jalan lagi! Ke satu situs (yang pas gw liat gw langsung tau situs Megalitikum) tempat peninggalan para leluhur. Bentuknya batu-batu yang dibentuk sedemikian rupa sehingga dapat digunakan sebagai perkakas hingga perabotan lainnya.

Setelah selesai berfoto ria di situs tersebut, Kang Dede pun menuntun saya untuk jalan menuju pintu keluar. Ya, sudah selesai akhirnya! Beliau menyayangkan saya datang saat bukan musim liburan, karena setiap kali ramai saat liburan, monyet-monyet secara bergerombol akan "menampakan diri" kepada pengunjung. Kata beliau sihhh monyet-monyet sini sudah tau giliran setiap "geng" yang dapet "jatah" perhatian pengunjung, sehingga bergantian "ke depannya". Saat saya ke sana, monyet-monyet tersebut lagi "leyeh-leyeh" mungkin di bagian dalam taman sehingga tidak terlihat satupun. Yang terlihat oleh mata gw adalah kawanan kancil yang dibiarkan bebas "bolak-balik" di taman. Akhirnya gw bisa melihat satwa tersebut dalam jarak dekat! Biasanya gw lihat kancil cuma di Taman Safari Cisarua dari kaca mobil!

Informasi selanjutnya yang saya dapat ketika jalan bareng Kang Dede adalah jangan sekali-kali mengambil "properti" yang ada di taman itu. Katanya pernah ada orang yang ngumpetin batu di tas, trus mau cari pintu keluar gak bisa-bisa. Ya...katanya dia muter-muter gitu akhirnya di taman. Mungkin kecapekan atau bagaimana, dia pingsan di salah satu spot taman dan diketemukan oleh orang lokal sana. Entah ditungguin ato disembuhin hingga siuman, si orang lokal bertanya kepada si "orang nyasar" tersebut mengenai alasan ia terkapar lemas di spot tersebut. Dia menjelaskan perjalanan dia dari awal hingga soal dia ambil batu dan disimpan dalam tas. Begitu tau bahwa si "orang nyasar" membawa "properti" taman dengan maksud akan dibawa pulang, si orang lokal ini taulah alasan mengapa si "orang nyasar" ini engga menemukan pintu keluar, ya karena batu tersebut juga termasuk dalam "properti taman" sehingga "tidak boleh dibawa pulang", harus dikembalikan di tanah taman tersebut. Benar saja! Ketika ia mengembalikan batu itu di tanah, dan ia jalan sebentar, ia melihat-lah pintu keluar taman, dipandu oleh orang lokal yang nemuin dia.

Dan selesai-lah jalan-jalan gw di Cagar Alam Pangandaran! Keluar dari situs taman, gw ditanya "mau minum dulu engga" yang langsung gw jawab "Ya iyalah!". Dan akhirnya tuk-u-tuk-u-tuk, gw sampai di warung dekat tempat parkir motor dan memesan minuman dingin yang ada. Teh pucuk! Hahaha.. Pasti kalo buka gugel tau deh! Satu buat gw, satu buat Kang Dede. Dan langsung abis tuh dua botol Teh Pucuk! Hahaha. Ditanya lagi "mau minum kelapa engga?" dan gw jawab lagi "Mau dong, Kang!"

Sepertinya Kang Dede punya langganan sendiri soal warung "kelapa ijo" saat ia meng-guide tamu keliling Pangandaran. Jadilah di antara puluhan warung yang ada di pinggir jalan, dengan mantabnya beliau parkir di depan satu warung dengan penjual nenek-nenek berbadan chubby (juga! Hehehe).. Saya pun memesan kelapa ijo dan pop mie dan langsung cari tempat duduk. Wah, indah sekali pemandangan dari warung itu, sob! Deburan ombak yang pecah mengenai batu penghalang indahnya tiada tara! Plus ditambah nikmatnya kelapa ijo yang dagingnya tebel banget menambah nikmatnya leyeh-leyeh di warung itu. Mungkin karena orang lokal udah "eneg" sama kelapa ijo, saat gw nawarin kelapa ijo ke Kang Dede, dia lebih prefer dibeliin rokok dan teh manis. Yasudah.. daripada gw ga beliin sama sekali kan?

Kelapa ijo sudah kandas. Pop Mie juga ludes. Checklist terakhir dalam "solo plan traveling" gw adalah memburu pemandangan matahari terbit. Jadilah gw dari warung "nenek-nenek" chubby itu dianterin balik ke hotel oleh Kang Dede dan gw bilang gw kalo butuh dianterin gw pasti telpon. Setelah "beberes diri" di kamar hotel saya berjalan menyusuri Pantai Barat Pangandaran, dan merasa lapar (lagi). Mata gw jelalatan mencari warung yang buka dan terjangkau deh! Dan menambatkan perhatian pada satu warung dekat pantai. Warung biasa sih... Gw pesen aja nasi pake ayam, pake tempe, tahu, dan kangkung. Minumnya gw pesen es teh manis, karena gw udah kenyang "kelapa ijo" barusan. Setelah itu gw leyeh-leyeh di pinggir pantai sampai matahari terbenam dan kembali ke hotel.

Salah satu pemandangan Pantai Karang Nini

Pemandangan Pantai Karang Nini

Pemandangan Pantai Karang Nini

Salah satu spot Pantai Karang Nini

Pemandangan Pantai Karang Nini

Salah satu spot Pantai Karang Nini

Batu Karang di Pantai Karang Nini. Duh...ombaknya.. 

Karang besar di Pantai Karang Nini

Karang Nini di Pantai Karang Nini

Salah satu spot Pantai Karang Nini

Menuju Pantai Karang Nini

Menuju Pantai Karang Nini

Plakat batu Pantai Karang Nini (yang terkena perbuatan vandalisme tanda "cinta")

Gw mencoba gambar di pasir Pantai Barat Pangandaran

Pintu Masuk Cagar Alam Pangandaran

Cagar Alam Pangandaran

Cagar Alam Pangandaran

Cagar Alam Pangandaran

Gua di Cagar Alam Pangandaran

Gua di Cagar Alam Pangandaran

Cagar Alam Pangandaran

Kancil di Cagar Alam Pangandaran


Papan Informasi Cagar Alam Pangandaran (yang bikin gw males bacanya)


Narsis sejenak boleh kali...

Para kancil santap siang di Cagar Alam Pangandaran






Parkir Kapal di salah satu spot Cagar Alam Pangandaran




Gua Panggung di Pangandaran













Gua Keramat di Cagar Alam Pangandaran




Tempat campur ramuan punya Mak Lampir (katanya).
Di dalem Gua Keramat, Pangandaran



















Kalo masih pemula, boleh tuh baca dulu peraturannya.




Larangan dalam Cagar Alam Pangandaran








Katanya gak "afdol" kalo gak sirem-sirem badan atau cuci muka di sini.
Di sini dulu tempat mandinya para ratu kerajaan dulu. Katanya sih,
Nyi Roro Kidul "pernah" guyur-guyur badan di sini.. Katanya lohhh..














Gua Jepang di Pangandaran ("tag"nya jepang sih.. cuma di Pangandaran.. hahaha)

Itu tuhhh.. Kapal asing yang dibom Menteri.






Sungai yang "lagi kering" di Cagar Alam Pangandaran

Pemandangan saat makan kelapa ijo di Warung Nenek Chubby

Kegiatan nelayan di Pantai Barat Pangandaran




Salah satu spot gw leyeh-leyeh di Pantai Barat Pangandaran



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Pertama Kali Banget ke Kuala Lumpur (Part 1)

Gw ke Kuala Lumpur kali ini 60% budget sendiri. Nyari tiket untungnya udah dari lama jadi CGK-KUL pp cuma 625 ribu sajah. Sempet terpikirk...