Minggu, 18 Februari 2018

Menginap di GuestHouse Grand Zea Yogyakarta

Ketika diberi pilihan untuk menginap di penginapan eksklusif tapi budget untuk jajan sedikit atau menginap di penginapan murah banget tapi budget jajan banyak, mana yang bakal lu pilih? Gue sih pasti memilih buat menginap di tempat yang murah aja. Budget buat jajan itu penting banget buat gue karena dari budget jajan itu menentukan apa yang gue makan dan transport keliling kota.
Nah, Grand Zea ini salah satu guest house di Jogja yang pas banget buat yang lagi bekpekeran bareng teman atau keluarga (atau calon keluarga..eak!). Semalem biaya menginapnya cuma 75-90ribuan. Ini aja gw juga nanya-nanya dulu, karena murahnya kebangetan. Tempatnya masuk gang kecil pula.
Jalan gang tempat guest house Grand Zea berada

Pintu Masuk Guest House Grand Zea

Uniknya dari guest house ini, meskipun tempatnya masuk-masuk ke dalam gang (a.k.a. terpencil menurut gue), banyak website yang merekomendasikan untuk menginap di sini untuk yang memang mencari tempat untuk merebahkan badan saja, bukan untuk leisurely. Hal ini sangat membantu gue yang saat itu lagi butuh rekomendasi cepat untuk penginapan di daerah Golo, Yogyakarta. Selain sudah memiliki review yang baik dari beberapa website, penginapan ini termasuk ramai. Selalu ada yang menginap. Selama seminggu gue menginap di sana, kamar yang kosong mungkin hanya satu atau dua.
Harga sesuai dengan fasilitas yang diberikan oleh penginapan ini. Ada dua jenis kamar dengan harga berbeda di hari yang berbeda pula; kamar standar dan kamar view jalan. Harga kamar itu berbeda pula saat weekend, lebih mahal sedikit. Kamar mandi-nya sistem sharing, di luar kamar. Ada dua kamar mandi di lantai bawah dan dua di lantai atas. Tidak disediakan alat mandi (apalagi handuk), jadi dipersiapkan saja bila mau menginap di sini. Ada pantry yang diperbolehkan untuk digunakan tamu, jadi bisa memasak mie atau merebus teh/kopi.
Kamar standar tempat gue nginep
Kamar view jalan. Lebih besar.

View Lantai Dua dari kamar gue

Setiap kamar memiliki 2 buah ranjang lengkap dengan bantal dan selimut, lemari, cermin, televisi, dan kipas angin. Colokan berada dekat lemari, jadi tidak berada dekat ranjang. Ventilasi cukup bagus, walaupun kecil. Pengharum ruangan menggantung pada kipas angin, membantu keadaan kamar agar tidak terasa sumpek.
Pengalaman gue menginap di sini cukup menyenangkan. Penjaga guest house-nya ramah dan sering ngasi rekomendasi jalan maupun kebutuhan lain, seperti laundry kiloan ataupun warung makan. Tempatnya agak jauh dengan destinasi wisata Jogja pada umumnya, kecuali Museum Trimatra dan kebun binatang.
Oh ya, fyi aja.. Ini gue menginap sekitar bulan September 2017.


Jemuran. Boleh digunakan untuk jemur handuk tamu.

Sabtu, 16 September 2017

Dateng Meet-Up Travel Blogger

Hari ini gw dateng ke acara Meet-UP Uchita Pohan  dan Febrian di kafe Kroma, Panglima Polim, Jakarta Selatan. Sebenernya gw belum lama kepoin web Febrian buat pencerah travelling gw. Cerita-cerita yang kak Feb ceritain bikin gw ngiler buat ikutan ngelakuin hal yang sama juga. Kalo kak Uchiet gw baru tau dari tag di instagram kak Feb. Ternyata kehidupan pekerja lepas (freelance) lebih memberikan banyak tantangan. Banyak cerita unik yang dishare oleh kak Uchiet dan kak Feb.

Di dalam kafe Kroma
Sudah ditata meja dan kursi untuk Meet-UP


Ini merupakan acara meet-up keempat kata kak Uchiet di pembuka acara. Namun, ini pertama kali gw hadir dalam meet-up khusus traveller enthusiast. Acara dibuka oleh lantunan melodi biola dari Nia Aladin. Kemudian diikuti oleh pengenalan kamera Lumix dan akhirnya dilanjutkan dengan sharing cerita jalan-jalan kak Feb.

Atraksi Biola oleh Nia Aladin


Banyak hal baru yang menjadi pelajaran buat gw. Karena gw udah "waw" sama kak Feb jadilah sisi cerita kak Feb yang lebih banyak gw dengerin. Menurut Kak Feb, travelling itu merupakan proses pendewasaan diri. Bertemu dengan hal-hal baru yang tidak pernah dibayangkan sebelumnya menempatkan kita dalam posisi harus beradaptasi. Apalagi mempelajari budaya kehidupan Indonesia, dari ujung sampai ujung Indonesia beragam sekali gaya hidupnya. Dari keberagaman itulah kita diajak untuk mengetahui caranya untuk menikmati hidup. "The more you travel, the more you know yourself better" gitu kata Kak Feb.

Kak Febrian menyapa semua pendatang meet-up bersama Kak Uchiet

Bagi Kak Uchiet, travelling itu layaknya membuka mata selebar jendela. Berbagai hal yang dilihat mata akan menjadi tolak ukur seberapa besar luas penglihatan dari jendela tersebut. Jika kita rajin mempelajari hal baru tentunya jendela kita akan semakin terbuka lebar. Tentu saja jika kita tidak rajin-rajin untuk mencari tau tentang hal baru, maka lebar jendela kita akan tetap pada posisi yang sama tanpa menunjukan adanya proses melebar.

Dengan menjalani travelling, berbagai pelajaran hidup menjadi hal berharga bagi Kak Feb. Ia pernah menjalani trip bersama salah satu LSM di Indonesia ke daerah Lembata, Nusa Tenggara Timur. Di sana ia tinggal bersama seorang janda yang memiliki dua orang anak dan satu keponakan. Segalanya terasa susah hidup di sebuah desa yang belum memiliki akses listrik dan air bersih. Untuk mendapatkan air bersih, penduduk di sana harus berjalan hingga satu jam lamanya. Sekembalinya Kak Feb ke Jakarta, ia mengakui bahwa fakta kehidupan keras yang ia lihat di Lembata membuat ia mengurungkan niat untuk berbelanja mengingat kesulitan yang ia rasakan belum sebanding apa yang dirasakan oleh ibu janda yang ia tumpangin rumahnya dan penduduk Lembata sekitarnya. Jangankan memikirkan mendapat sinyal atau tidak, mau minum saja susah!

Sharing mengenai travelling oleh Kak Uchiet dan Kak Febrian

Ternyata... Kak Feb dulunya wedding singer. Setelah menjalani profesi menyanyi-nya, Kak Feb merasa lebih ingin jalan-jalan tapi menghasilkan. Tentu, penghasilan dari menyanyi disisihkan sebagian untuk jalan-jalan. Wonderful banget ga sih kalo dari jalan-jalan aja dapet duit? Tapi mungkin engga sih? Begitu juga yang dipikirin Kak Feb awalnya. Ada petuah  yang selalu diingat Kak Feb"Tidak ada yang "gak mungkin" tapi "mau engga" yang menjadi penting" . Dari situlah kak Feb mencoba untuk mengontak berbagai teman di daerah yang berbeda untuk menumpangi rumah mereka dan pergi ke destinasi wisata di dekatnya. Menulis cerita untuk blog menjadi hambatan kedua karena Kak Feb tidak pernah memiliki minat yang tinggi untuk membaca maupun menulis. Namun tak menyurutkan niatnya untuk berbagi kisah setelah travelling ke destinasi-destinasi yang menarik dan membagikannya lewat blog.

Pencerah pertama setelah berbagi cerita tentang destinasi yang dikunjunginya merupakan telepon dari teman kuliahnya yang sudah bekerja di Indonesia Kaya untuk menjadi host travelling. Merupakan hal yang menakjubkan bukan? Dari awalnya hanya keinginan Kak Feb untuk mendapatkan uang dari jalan-jalan hingga menjadi travel blogger yang pekerjaannya membuat semua orang ngiler untuk berlibur. Ia memberikan tips bahwa setiap destinasi memiliki momen tersendiri bagi travellernya yang menjadi daya tarik pembaca. Itulah yang menurutnya membuat pembaca blognya menjadi meminta cerita-cerita baru untuk dibaca. Tak hanya ditawari menjadi host, namun Kak Feb sempat dihubungi Kompas untuk mengutip artikelnya.

Menjelajahi berbagai macam daerah di Indonesia membuat beberapa daerah yang jarang terkespos menjadi penarik wisatawan. Kurangnya edukasi tentang pariwisata kepada masyarakat lokal membuat mereka mudah sekali meminta uang kepada pendatang, seperti penjaja cindera mata yang agak memaksa pendatang untuk membeli dagangannya. Lebih parah lagi bila yang melakukan hal tersebut masih anak-anak. Menurut pengalaman Kak Feb, memberikan uang untuk jajan kepada anak-anak (yang menjual cindera mata dengan nada agak memaksa) merupakan hal keliru karena pasti mereka akan terbiasa dengan hal seperti itu dan akan melakukan hal serupa pada pendatang berikutnya. Kemungkinan yang akan terjadi berikutnya adalah komentar buruk dari satu pendatang ke pendatang yang lainnya seingga calon pendatang pun mengurungkan niat untuk pergi ke daerah tersebut. Yang terjadi selanjutnya? Sudah pasti daerah tersebut berkurang peminatnya.

Tak hanya anak-anak yang menjadi agresif meminta uang, namun masyarakat pedalaman yang sudah terbiasa menerima pungutan liar dari turis menjadi kebiasaan. Seperti pengalaman kak Feb sewaktu ke Papua. Untuk berfoto dengan salah satu orang suku yang mengenakan kostum, ia pernah diminta uang sebesar satu juta. Hal yang fantastis bukan?

Solusi dari Kak Feb untuk para pendatang yang "dipalak" seperti itu adalah mengedukasi mereka dengan pelan-pelan. Salah satu cara Kak Feb untuk meminimalisir kejadian tersebut adalah dengan tidak memberikan uang langsung kepada anak-anak yang berjualan di area destinasi wisata. Jika ingin memberikan uang kepada anak itu, harus melalui orang tuanya. Hal selain uang yang dapat menjadi solusi adalah permainan. Kak Feb pernah memberikan games pada anak-anak yang berada di destinasi wisata dengan hadiah berupa permen. Menurut Kak Feb dengan adanya permainan, anak-anak akan berusaha agar mendapatkan sesuatu, tidak hanya meminta saja.

Dalam kesempatan meet-up ini pula gw meminta saran untuk memilih opentrip yang meyakinkan. Hal ini dilatar-belakangi oleh salah satu pengalaman kurang berkesan gw ketika ikut opentrip sebelumnya. Opentrip sangat disarankan oleh Kak Uchiet jika ingin mengesksplor Indonesia yang susah dijangkau dan sangat baik untuk meningkatkan kemampuan travelling. Dalam hal memilih opentrip, sangat diharuskan untuk rajin-rajin membaca review dari orang yang pernah mengikuti opentrip tersebut. Kak Feb pun menambahkan, bila opentrip tersebut menarik influencers untuk mengikuti opentrip tersebut, sudah pasti itu meyakinkan untuk diikuti. Dengan adanya influecers yang merekomendasi suatu opentrip sudah pasti opentrip tersebut dibuat senyaman mungkin untuk kemudian direkomendasikan.

Tentunya.. Foto bersama!
Pas banget si Kak Febrian lagi terima telpon☺

Itulah pengalaman gw mengikuti meet-up yang khusus membicarakan travelling. Gw beruntung banget bisa kenal blogger-blogger dari acara-acara kecil namun intim seperti ini. Semoga gw bisa menulis tentang acara lainnya yang memberika pelajaran positif lagi.

Rabu, 10 Mei 2017

Menikmati Matahari Terbit dari Pangandaran

Dan.. tibalah hari terakhir solo trip gw di Pangandaran. Kang Dede udah rekomen banget buat liat sunrise di Pantai Timur karena cuacanya lagi bagus. Gak salah sih! Gw rela bangun pagi2 buta demi ngeliat matahari terbit di pantai. Tak hanya itu. Pemandangan jadi tambah bagus karena ada aktivitas nelayan yang lagi ada di pantai. Jadinya rada candid gitu deh mereka. Ini semua foto yang gw post di Celoteh Lima gak ada yang pake filter. Beneran warna alam dan tanpa editan apapun. 
Setelah itu, gw dianterin Kang Dede ke pool bis jurusan Jakarta (lagi) deh! 
Lucunya, ternyata si sopir bus itu merupakan seorang saudara Kang Dede! Sans banget ga? wkwkwk. Dunia sempit banget ya di Pangandaran! Sudah ya postingan solo trip gw ke Pangandaran. 









Keindahan Tersembunyi Pantai Karapyak

Hari kedua gw di Pangandaran gw memilih untuk mengunjungi pantai lagi. Rekomendasi Kang Dede untuk pantai eksotis berikutnya adalah Pantai Karapyak. Pantai ini indah nan tenang. Pasir masih putih. Batu karang masih terlihat dari jauh. Deburan ombak masih terlihat satu garis lurus bila berdatangan.
Namun, saking eksotisnya Pantai Karapyak, jalan menuju destinasi tidaklah mudah. Gw untung hanya seorang diri. Jadinya si Kang Dede gak ribet bawa penumpang. Gw mulai lewatin jalan raya. Masih biasa. Trus masuk gerbang dan jalan berbatu. Masih terasa fine-fine saja. Nah... setelah itu.. Berbatu plus naik turun dengan medan tanah yang beneran gak rata. Padahal yang dilewatin banyak tanjakan. Sekalinya naik nanjak banget, sekalinya turun miring banget. Medan jalan berbatu sudah lewat. Berikutnya adalah perumahan warga yang masih belum ada pager terlihat berderet. Udah mulai lurus sih jalanan. Ya tapi cuma pas ada rumah warganya. Setelah lewatin komplek perumahan ya naik-turun lagi ojeg-nya Kang Dedek. Perut gw aje sampe berasa pegel mules. Nah, perasaan lega itu datang ketika Kang Dede bilang, "Tuh, Bos! Sawahnya di bawah sana. Sebentar lagi sampai di pantai"
Benar! Gw melihat sawah yang luas dengan padi yang masih hijau. Plus saung di salah satu pematang sawah. Gambarannya tuh ya mirip iklan RCTI oke! dulu yang masih pake sawah-sawahan. Trus terlihatlah plang "Selamat Datang di Pantai Karapyak" .
Papan "Selamat Datang di Pantai Karapyak"
View sebelum masuk pantai


Saat saya beneran duduk leyeh-leyeh di pasir terdapat batang pohon yang "pas" banget buat diajak selfie. Kang Dede sepertinya tau gw pengen difoto nangkring di batang pohon miring itu dan dia nawarin deh buat motoin biar dapet view laut yang super duper keren. Ya hasilnya sih biasa aja, kan yang penting udah kesampean "foto"nya.

View Pantai Karapyak

Batu dan pasirnya itu lohhh..

Jernih banget air lautnya

Ombaknya dari ujung ke ujung

Pohon fotogenik. 


Setelah puas menikmati keindahan Pantai Karapyak, gw minta udahan sama Kang Dede dan kita jalan pulang. Dan... beda lagi jalan pulang buat balik ke hotel. Jalan penuh derita tadi bukan jadi jalan yang akan dilewati buat keluar. Jadilah saya siap-siap "mules" lagi.
Motor pun jalan melintasi jalan berbatu, mulai nanjak, dan sampai di atas bukit. "Tuh, Bos! Pulau Nusa Kambangan" Gw agak engga konek sih awalnya. Pas nengok baru nge-eh. Ada pulau hijau di balik pepohonan sebelah gw. Pemandangannya sih "WaW" banget! Lautnya keliatan biru banget mengelilingi Pulau Nusa Kambangan.
Gak usah gw deskripsiin lah yah jalan pulangnya. Pokoknya gw sore itu, balik leyeh-leyeh lagi di Pantai Barat. Dan terlintas lah sesuatu di benak gw "Belom ke pantai kalo belom tatoan." Jadilah gw nyariin warung yang buka tato. Gw agak kaget sih dengan tarif tatonya. Cuma ya tampang lempengdotkom aje biar ga dikira kere. Gw milih tato gelang motif biasa (yang sering ditemukan dalam Google Images).
Dan selesailah hari kedua untuk menikmati Pangandaran. Gw balik ke hotel untuk beres-beres buat siap-siap pulang besok pagi.

Selasa, 18 April 2017

Cinta Nenek di Pantai Karang Nini dan Menyusuri Keindahan Cagar Alam Pangandaran

Setelah berhasil check-in ke hotel (gw lupa nama hotel tersebut, namun yang pasti hotel tersebut terdapat dalam list hotel Traveloka), gw mandi serta leyeh-leyeh di kamar. Lumayan... Ada AC beneran. Jadilah gw sekalian tidur deh! Kan pegel tuh abis naik bus Jakarta-Pangandaran. Pasang alarm sehingga bisa bangun jam 10-an, karena sudah janjian dengan Kang Dede untuk mulai jalan-jalan di daerah Pangandaran.

Kenapa gw nunggu Kang Dede banget? Karena transportasi yang memadai dan aman daerah sana adalah ojeg. Selain itu ada sepeda yang bisa disewa. Kendaraan lain yang gw lihat selain itu merupakan kendaraan pribadi atau dari rombongan tur yang umumnya bus rombongan. Jadilah setelah sudah puas merebahkan diri dalam kamar, saya bersiap-siap untuk berpetualang di Pangandaran.

Inti dari perjalanan gw sewaktu ke Pangandaran adalah menikmati pantai sepi yang masih alami. Gw lupa urutan pantai apa saja yang gw datengin, tapi garis besarnya gw tau namanya. Pantai yang gw datengin antara lain: Pantai Karang Nini, Pantai Karapyak, Pantai Timur Pangandaran, dan Pantai Barat Pangandaran. Jalan yang berkelok-kelok dan geradakan ini gw telusurin bersama Kang Dede dengan motornya. Karena pantai ini masih di pelosok, terkadang malah melewati perkampungan warga atau hutan. Kadang sampe gw mikir, "Ini gw dikerjain gak ya?" Ternyata engga! Semua pantai yang gw datengin itu indahnya booooo, warbyasah! Masih biru-biru air lautnya, pasir masih putih, pohon kelapa masih banyak, dan satu hal yang paling gw suka, sampah masih minim banget (karena perbandingan gw adalah pantai di Anc*l yang kotornya bikin ogah lama-lama)

Untuk yang Pantai Karang Nini, gw diceritain kisah yang melatarbelakangi bentuk karang yang mirip panggung Pride Lands di The Lion King. Jadi kisah-kisah yang diceritakan di situs yang gw riset sebelumnya benar bahwa Pantai Karang Nini itu merupakan saksi bisu kisah romantis tragis antara seorang pria dan wanita zaman dulu. "Nini" yang dimaksud di sini merupakan seorang wanita yang merindukan kepulangan suaminya dari melaut. Namun, karena sesuatu hal suaminya meninggal saat melaut sehingga penantian wanita tersebut tak kunjung kelar. Saking udah capek menunggu, si wanita ini berdoa pada Sang Pencipta "Ya Allah, tolong tunjukan di mana dan bagaimana keadaan suamiku. Bila ia masih hidup, tuntunlah ia jalan pulang. Bila ia sudah mati, tolong tunjukkan pada hamba hayat suami hamba. Jika Engkau memulangkan suami hamba tak bernyawa, ambil juga nyawa hamba, sehingga hamba dapat bersama suami hamba" (gak gitu inget sih gw, cuma intinya gitu). Jadilah itu karang yang menjulang tinggi merupakan bentuk terkabulnya doa "Nini" untuk kembali bersama suaminya yang dikembalikan tak bernyawa di hadapannya. Hamparan batu landai di depan "Nini" itulah yang dipercaya sebagai suami yang meninggal saat melaut tersebut.

Hal itu yang dibenarkan pula oleh Kang Dede. Mengapa ia yakin? Karena menurut informasi yang beliau berikan, dulunya beliau nelayan yang ikut menyelam untuk menangkap ikan. Berhubung alat menyelam kurang memadai, terjadi kerusakan pada organ pendengarannya secara permanen. Sejak saat itulah Kang Dede "naik ke darat" untuk mencari nafkah dari ojeg. Selain ojeg, ternyata beliau memang sering mengantar tamu keliling Pangandaran! Mungkin karena di daerah sana semuanya saling kenal, setiap kali berhenti di pantai atau warung, beberapa orang menyapa Kang Dede. Sapaan itu pun dibalas kembali oleh Kang Dede.

Karena waktu gw cuma 3 hari 2 malam untuk solo travelling dan gw ogah terburu-buru, pilihan jalan-jalan terakhir adalah situs Cagar Alam Pangandaran. Seperti layaknya tur, si Kang Dede ikut jalan-jalan ke dalam taman sambil menerangkan informasi singkat dari setiap spot bersejarah di taman itu. Banyak gua-gua yang keluar dari jalur path yang disediakan, sehingga kata beliau kalo gak sama orang lokal gak bakal nemu. Walaupun ia berbadan chubby juga, ia mau loh naik-turun tangga nemenin gw! Hahaha... Kasian sih dia keringetan ngucur parah! Gw sama beliau pun menyusuri sungai kering dan menuju spot yang pas untuk melihat kapan asing yang di-bom oleh Menteri Kelautan Indonesia. Ya, bangkai kapal tepatnya! Bangkai kapal yang sempat menarik perhatian dunia sehingga memberikan sedikit efek jera dalam kasus mencuri ikan di perairan Indonesia. Spot itu juga mesti naek tangga, belok kanan-kiri, nanjak lagi. Asumsi gw sih kalo rombongan, gak mungkin sampe spot sini, pasti desek-desekan! Saya menemukan satu hal lagi pada spot itu, bungkus rokok! Ya siapa lagi kalo bukan orang Indonesia yang doyan nyampah... Hahaha

Begitu turun dari spot "melihat bangkai kapal", gw kasian sama si Kang Dede dan akhirnya kami berbagi minum. Nah! Gw kira kan dah kelar tuh, ternyata engga sob! Masih diajak jalan lagi! Ke satu situs (yang pas gw liat gw langsung tau situs Megalitikum) tempat peninggalan para leluhur. Bentuknya batu-batu yang dibentuk sedemikian rupa sehingga dapat digunakan sebagai perkakas hingga perabotan lainnya.

Setelah selesai berfoto ria di situs tersebut, Kang Dede pun menuntun saya untuk jalan menuju pintu keluar. Ya, sudah selesai akhirnya! Beliau menyayangkan saya datang saat bukan musim liburan, karena setiap kali ramai saat liburan, monyet-monyet secara bergerombol akan "menampakan diri" kepada pengunjung. Kata beliau sihhh monyet-monyet sini sudah tau giliran setiap "geng" yang dapet "jatah" perhatian pengunjung, sehingga bergantian "ke depannya". Saat saya ke sana, monyet-monyet tersebut lagi "leyeh-leyeh" mungkin di bagian dalam taman sehingga tidak terlihat satupun. Yang terlihat oleh mata gw adalah kawanan kancil yang dibiarkan bebas "bolak-balik" di taman. Akhirnya gw bisa melihat satwa tersebut dalam jarak dekat! Biasanya gw lihat kancil cuma di Taman Safari Cisarua dari kaca mobil!

Informasi selanjutnya yang saya dapat ketika jalan bareng Kang Dede adalah jangan sekali-kali mengambil "properti" yang ada di taman itu. Katanya pernah ada orang yang ngumpetin batu di tas, trus mau cari pintu keluar gak bisa-bisa. Ya...katanya dia muter-muter gitu akhirnya di taman. Mungkin kecapekan atau bagaimana, dia pingsan di salah satu spot taman dan diketemukan oleh orang lokal sana. Entah ditungguin ato disembuhin hingga siuman, si orang lokal bertanya kepada si "orang nyasar" tersebut mengenai alasan ia terkapar lemas di spot tersebut. Dia menjelaskan perjalanan dia dari awal hingga soal dia ambil batu dan disimpan dalam tas. Begitu tau bahwa si "orang nyasar" membawa "properti" taman dengan maksud akan dibawa pulang, si orang lokal ini taulah alasan mengapa si "orang nyasar" ini engga menemukan pintu keluar, ya karena batu tersebut juga termasuk dalam "properti taman" sehingga "tidak boleh dibawa pulang", harus dikembalikan di tanah taman tersebut. Benar saja! Ketika ia mengembalikan batu itu di tanah, dan ia jalan sebentar, ia melihat-lah pintu keluar taman, dipandu oleh orang lokal yang nemuin dia.

Dan selesai-lah jalan-jalan gw di Cagar Alam Pangandaran! Keluar dari situs taman, gw ditanya "mau minum dulu engga" yang langsung gw jawab "Ya iyalah!". Dan akhirnya tuk-u-tuk-u-tuk, gw sampai di warung dekat tempat parkir motor dan memesan minuman dingin yang ada. Teh pucuk! Hahaha.. Pasti kalo buka gugel tau deh! Satu buat gw, satu buat Kang Dede. Dan langsung abis tuh dua botol Teh Pucuk! Hahaha. Ditanya lagi "mau minum kelapa engga?" dan gw jawab lagi "Mau dong, Kang!"

Sepertinya Kang Dede punya langganan sendiri soal warung "kelapa ijo" saat ia meng-guide tamu keliling Pangandaran. Jadilah di antara puluhan warung yang ada di pinggir jalan, dengan mantabnya beliau parkir di depan satu warung dengan penjual nenek-nenek berbadan chubby (juga! Hehehe).. Saya pun memesan kelapa ijo dan pop mie dan langsung cari tempat duduk. Wah, indah sekali pemandangan dari warung itu, sob! Deburan ombak yang pecah mengenai batu penghalang indahnya tiada tara! Plus ditambah nikmatnya kelapa ijo yang dagingnya tebel banget menambah nikmatnya leyeh-leyeh di warung itu. Mungkin karena orang lokal udah "eneg" sama kelapa ijo, saat gw nawarin kelapa ijo ke Kang Dede, dia lebih prefer dibeliin rokok dan teh manis. Yasudah.. daripada gw ga beliin sama sekali kan?

Kelapa ijo sudah kandas. Pop Mie juga ludes. Checklist terakhir dalam "solo plan traveling" gw adalah memburu pemandangan matahari terbit. Jadilah gw dari warung "nenek-nenek" chubby itu dianterin balik ke hotel oleh Kang Dede dan gw bilang gw kalo butuh dianterin gw pasti telpon. Setelah "beberes diri" di kamar hotel saya berjalan menyusuri Pantai Barat Pangandaran, dan merasa lapar (lagi). Mata gw jelalatan mencari warung yang buka dan terjangkau deh! Dan menambatkan perhatian pada satu warung dekat pantai. Warung biasa sih... Gw pesen aja nasi pake ayam, pake tempe, tahu, dan kangkung. Minumnya gw pesen es teh manis, karena gw udah kenyang "kelapa ijo" barusan. Setelah itu gw leyeh-leyeh di pinggir pantai sampai matahari terbenam dan kembali ke hotel.

Salah satu pemandangan Pantai Karang Nini

Pemandangan Pantai Karang Nini

Pemandangan Pantai Karang Nini

Salah satu spot Pantai Karang Nini

Pemandangan Pantai Karang Nini

Salah satu spot Pantai Karang Nini

Batu Karang di Pantai Karang Nini. Duh...ombaknya.. 

Karang besar di Pantai Karang Nini

Karang Nini di Pantai Karang Nini

Salah satu spot Pantai Karang Nini

Menuju Pantai Karang Nini

Menuju Pantai Karang Nini

Plakat batu Pantai Karang Nini (yang terkena perbuatan vandalisme tanda "cinta")

Gw mencoba gambar di pasir Pantai Barat Pangandaran

Pintu Masuk Cagar Alam Pangandaran

Cagar Alam Pangandaran

Cagar Alam Pangandaran

Cagar Alam Pangandaran

Gua di Cagar Alam Pangandaran

Gua di Cagar Alam Pangandaran

Cagar Alam Pangandaran

Kancil di Cagar Alam Pangandaran


Papan Informasi Cagar Alam Pangandaran (yang bikin gw males bacanya)


Narsis sejenak boleh kali...

Para kancil santap siang di Cagar Alam Pangandaran






Parkir Kapal di salah satu spot Cagar Alam Pangandaran




Gua Panggung di Pangandaran













Gua Keramat di Cagar Alam Pangandaran




Tempat campur ramuan punya Mak Lampir (katanya).
Di dalem Gua Keramat, Pangandaran



















Kalo masih pemula, boleh tuh baca dulu peraturannya.




Larangan dalam Cagar Alam Pangandaran








Katanya gak "afdol" kalo gak sirem-sirem badan atau cuci muka di sini.
Di sini dulu tempat mandinya para ratu kerajaan dulu. Katanya sih,
Nyi Roro Kidul "pernah" guyur-guyur badan di sini.. Katanya lohhh..














Gua Jepang di Pangandaran ("tag"nya jepang sih.. cuma di Pangandaran.. hahaha)

Itu tuhhh.. Kapal asing yang dibom Menteri.






Sungai yang "lagi kering" di Cagar Alam Pangandaran

Pemandangan saat makan kelapa ijo di Warung Nenek Chubby

Kegiatan nelayan di Pantai Barat Pangandaran




Salah satu spot gw leyeh-leyeh di Pantai Barat Pangandaran



Pertama Kali Banget ke Kuala Lumpur (Part 1)

Gw ke Kuala Lumpur kali ini 60% budget sendiri. Nyari tiket untungnya udah dari lama jadi CGK-KUL pp cuma 625 ribu sajah. Sempet terpikirk...